Tujuh nasehat Sa’adi

Tujuh nasehat Sa’adi (murid Syech Abdul Qodir Jaelani):

1. Kekayaan adalah diperuntukkan bagi kesenangan hidup dan bukan hidup untuk
memperoleh kekayaan. mereka bertanya kepada seorang bijak. “Siapakah yang
beruntung dan siapa yang merugi?. Ia berkata, Keuntungan adalah bagi siapa yang
menabur dan menuai, sedang yang tidak beruntung adalah orang yang meninggal
dunia dan meninggalkan ketidak beruntungan dibelakangnya.

2. Suatu bangsa diperindah oleh orang-orang terpelajar dan suatu agama
diperindah oleh pemeluknya yang saleh.

3. Jangan membuka semua rahasiamu kepada teman-temanmu, karena suatu hari
mungkin mereka akan menjadi musuhmu, dan jangan melakukan semua kejahatanmu
terhadap musuhnmu, boleh jadi mereka akan menjadi temanmu.

4. Sebuah gagasan yang ingin engkau rahasiakan jangan diceritakan kepada
seseorang, betapapun engkau mempercayainya, karena engkau sendiri tidak dapat
menyimpan rahasiamu, jangan berharap orang lain dapat lebih darimu (dalam
menjaga rahasia). Lebih baik berhati-hati daripada berkata pada orang lian,
kemudian mengharapkan agar mereka mau menyimpan rahasia.

Jangan berkata pada siapapun apa yang engkau tidak ingin setiap orang
mengetahuinya.

5. Untuk mengecek mawar yang indah adalah terletak pada baunya, bukan pada
perkataan pemilik kebun. Orang bijak seperti sekuntum bunga mawar yang mekar,
meskipun diam semerbak harum baunya. Sementara orang dungu ibarat sebuah tong,
nyaring bunyinya kosong isinya (tidak berilmu dan tidak bermanfaat untuk orang
lain).

6. JIka engkau mendengar berita yang menyakitkan hati, lebih baik diam.  Jadilah
seperti burung bulbul, membawa berita baik dimusim semi dan meninggalkan berita
buruk bagi burung hantu

7. Kesabaran mengantar kita pada keberhasilan, kekerasan mengantar pada
kekecewaan.

Sa’adi As Sirozi adalah murid utama Syekh Abdul Qodir Jaelani
Dikutip dari History of Islamic Origins of Western Education AD 800-1350, (Mehdi
Nakosteen, 1964)
Sufi (Edisi Edisi 5)

Advertisements