Basa-basi

"Hai"
"Hai"
"Maaf, boleh saya duduk di sini?"
"Oh, silahkan, silahkan"
"Sepertinya.. pengantinnya datang terlambat, ya?" 
"ya, sudah terlambat satu jam lebih, nih..."
"Sendirian saja?"
"Iya... Mbak juga...?"
"ya, suami saya ada urusan lain. Terpaksa sendirian, deh"
"Ooh, begitu... kalau pacar saya memang terpaksa lembur di kantor. Jadi, keadaan kita mirip, dong!"
"Wah, betul juga. Omong-omong, kenalkan, nama saya Mira"
"Saya Andini..." 

Percakapan di atas ini bisa dikategorikan sebagai basa-basi. Situasi begini sering kali tercipta dalam berbagai kesempatan. Bisa jadi di pesta pernikahan, di bandara, di pameran, di toko buku, dan sebagainya.

Dialog semacam itu biasanya dilakukan oleh dua orang yang belum saling kenal. Isinya ringan-ringan saja, sekedar salam perkenalan.

Mengapa harus basa-basi?
Basa-basi tak ubahnya kata-kata pembuka dalam satu karangan. Bayangkan saja kalau dalam suatu percakapan, Anda langsung masuk ke inti persoalan. Tak mustahil Anda mendapat sambutan berupa tatapan bingung atau kerutan di kening. Ingat, mungkin sekali lawan bicara Anda sedang berada dalam alam pikiran tertentu yang sama sekali berlainan dengan apa yang akan Anda kemukakan. Jadi, perlu pembuka untuk membuatnya tune in dengan obrolan yang baru.

Do & Don”t dalam basa-basi
Do :
Obrolkan hal-hal dan kejadian umum sehari-hari, misalnya cuaca, kemacetan lalu lintas, berita-berita yang hangat, dan seterusnya. Kalau Anda benar-benar tidak punya bahan pembicaraan, mungkin ini saatnya Anda lebih rajin membuka koran dan mengamati keadaan sekitar!

Don’t :
Berbasa-basi dengan berlebih-lebihan. Bisa-bisa Anda terkesan cerewet, centil, bertele-tele, dan semuanya benar-benar jadi basi. Jaga porsinya, racikannya harus pas!
Kalau bos tidak suka basa-basi…
Apa boleh buat, Anda juga harus sanggup meladeninya. Tak usah berharap Anda bisa mengubahnya. Untuk mendapat perhatian bos, cobalah “menyontek” cara-cara yang dipakai teman-teman kerja lain yang berhasil mencuri perhatiannya. Tak usah terlalu merasa kurang diperhatikan. Biasannya, bos semacam itu tidak mengutarakan perhatiannya dalam bentuk basa-basi.

Resep manjur untuk berbasa-basi

  1. Bicarakan apa yang disenangi oleh lawan bicara. Cara mengetahuinya? Begitu tahu ke mana arah pembicaraannya, Anda harus segera menangkap dan mengembangkannya, kecuali untuk membenarkan pernyataannya.
  2. Berbasa-basi sebetulnya cukup dimulai dengan sapaan “halo” atau “selamat pagi” dan seterusnya, plus seulas senyum manis di bibir. Semua itu tergantung kapan anda bertemu dengan orang yang diajak berbasa-basi itu. Lihat dulu situasi dan kondisinya. Terganggukah lawan bicara Anda dengan kehadiran Anda?
  3. Lagi-lagi, perhatikan porsi basa-basi. Secukupnya saja. jangan sampai keinginan Anda untuk berbasa-basi melenceng hingga jadi bergosip! Bergosip bukanlah hal yang positif, dan meninggalkan kesan negatif. Sedapat mungkin, hindari basa-basi seperti itu.
Semoga bermanfaat.. :)
Sumber : ETIKET - Mien R. Uno
Advertisements